Profesi Bidan Jangan Dipandang Sebelah Mata

0
859

Berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini, kerap kali memojokkan profesi bidan. Ketika isu etika dan moral diangkat ke permukaan, tugas mulia yang diemban bidan dalam melayani masyarakat tercederai. Lewat tulisan ini, sebagai seorang bidan penulis terpanggil untuk bersuara tentang dunia kebidanan.

Menurut WHO, bidan adalah seorang perempuan yang telah mengikuti program pendidikan bidan, yang telah diakui di negaranya. Telah lulus dari pendidikan, memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register), dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.

Pertanyaannya, bagaimana jika seorang bidan angkat tangan dan menolak menjalankan tugasnya sebagai penolong persalinan karena motif atau alasan tertentu? Silakan dibayangkan sendiri.
Isu etik yang terjadi antara bidan bersama klien, keluarga dan masyarakat, mempunyai hubungan erat dengan nilai kemanusiaan dalam menghargai suatu tindakan.

Misalnya, seorang oknum yang dikenal sangat materialistis, ditugaskan untuk melayani masyarakat. Pelayanan yang diberikan berorientasi materi.

Ketika pasien ibu hamil membutuhkan pertolongan dan usai proses persalinan, suami atau keluarga tidak mampu melunasi biaya persalinan. Oknum bidan pun mengabaikan nilai kemanusiaan karena orientasinya adalah materi. Sudah tentu akan terus menuntut keluarga pasien untuk melunasi biayanya.
Tanpa disadari, ulah oknum seperti ini ‘merusak’ citra bidan di mata masyarakat. Akibatnya bidan dinilai tidak beretika dan hanya kumpulan orang-orang matre. Padahal tidak demikian, karena lebih banyak bidan yang menjalankan tugas dan menolong dengan sepenuh hati dibanding yang tidak.
Begitupun isu moral. Moral merupakan topik yang sangat penting, karena berhubungan dengan benar atau salah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, juga berkaitan erat dengan pelayanan kebidanan.

Misalnya, di sebuah klinik bersalin milik seorang oknum bidan, terdapat pasien ibu hamil dengan riwayat anemia pada usia kehamilan 16 minggu. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui janinnya sangat lemah, begitupun kondisi pasien dan dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan ibu.

Ketika menghadapi kasus demikian, aborsi karena alasan kesehatan akan menjadi pilihan terakhir. Tentu dari aspek kesehatan aborsi dapat dibenarkan, namun tidak untuk agama.
‘Membunuh’ janin demi menyelamatkan seorang ibu adalah keputusan yang cukup sulit, ibaratnya dikasih buah simalakama.
Seorang bidan sudah sewajarnya berempati dengan kondisi ibu hamil sebagai sesama kaum perempuan. Berbagai motif dan alasan yang dipakai oknum bidan tertentu, seenaknya melakukan tindakan untuk menolong yang justru melampaui batas kompetensinya.

Perubahan Zaman
Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan diharapkan menjadi mitra bagi masyarakat di manapun. Tugas bidan bukan sebatas memeriksa atau menolong persalinan, namun harus memberikan informasi, edukasi dan komunikasi yang baik dan mudah dipahami oleh ibu. Khususnya mengenai masalah kesehatan usia reproduksi, kehamilan, persalinan, dan pelayanan KB secara komprehensif.

Menjamurnya sekolah kebidanan dan lulusan dari waktu ke waktu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan. Namun fakta berbicara lain. Berdasarkan Permenkes No.1796 tahun 2011 tentang hasil uji kompetensi, ditemukan kemampuan bidan belum sesuai harapan karena masih banyak yang diragukan kualitasnya.

Akreditasi berbagai sekolah kebidanan tidak diragukan, namun sayangnya belum mampu mencetak lulusan yang berkualitas dan bermutu. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pengawasan dari pihak terkait. Lalu sampai kapankah persolan ini akan terus dibiarkan? Tegakah kita melihat ibu dan janin terus berada di tangan yang salah? Bagaimanakah nasib ibu dan janin di masa yang akan datang?

Tindak Lanjut
Pertama, hari bidan nasional yang diperingati setiap tanggal 24 Juni kiranya membawa perubahan dan bukan untuk mendiskreditkan profesi bidan. Profesi bidan itu mulia dan jangan dipandang sebelah mata, karena membantu proses kelahiran dan kehadiran seorang anak manusia.

Kedua, apa sebenarnya motivasi Anda menjadi bidan, dan benarkah untuk menolong orang lain atau ingin mengumpulkan pundi-pundi kekayaan?

Ketiga, jika ingin menghasilkan lulusan bidan yang berkualitas, beretika, bermoral dan berkompeten, pemerintah harus melakukan pengawasan yang ketat bagi setiap sekolah kebidanan di Indonesia. Pemerintah melalui dinas terkait perlu memberikan pelatihan klinis dan mental yang berkelanjutan, agar petugas kesehatan khususnya bidan memiliki keramahan, keterampilan dan selalu tersenyum, saat melayani ibu dan anak.

Editor :RAA