Bidan Sebagai Seorang Khalifah fi al-Ardl

0
568

Ada dua fungsi utama diciptakannya manusia di dunia ini, yakni (1) sebagai `abid (hamba), dan (2) sebagai khalifah fi al-Ardl (penguasa atau pemimpin di bumi). Hal ini termaktub dalam Q.s. al-An`am16: 165 sebagai berikut: “Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kalian alas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Pada ayat yang lain dan senada juga Allah swt berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfrman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi “. Mereka (malaikat) berkata “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu sedangkan orang itu akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” (Q,s. al-Baqarah/2: 30).

Kedua ayat suci di atas tidak menunjukkan sama sekali adanya hukum Tuhan, apakah kekuasaan itu berada pada laki-laki atau perempuan? Sehingga dari sinilah saya bisa menarik satu kesimpulan bahwa seorang perempuan – ¬termasuk di dalamnya kita para profesional di bidang kebidanan – dalam menjalankan profesi atau keahliannya adalah sama dan atau setara dengan kaum laki-laki.
Dalam menjalankan profesinya – sebagai bentuk kekhalifahannya – seorang bidan haruslah mendasari tugasnya itu sebagai satu ibadah sehingga profesi itu adalah bagian dari kewajiban agama juga.

Hal ini memang berhubungan erat sekali dengan kekuasaan Allah yang dibentangkan secara luas untuk dikerjakan, sebagaimana arti firman-Nya: “Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeqi dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Nya” (Q.s. al-Mu’min/40: 13).