Bidan Sebagai Seorang Ibu

0
580

Ada beberapa term yang bisa kita jumpai di dalam kitab suci Alquran, jika bidan itu dihubungkan dengan dirinya sebagai seorang ibu atau kaum perempuan. Terdapat kata al-Nisa, misalnya, pada ayat 7 surah al-Nisa/4: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”.
Dengan ayat ini, maka kata al-Nisa menunjukkan jender perempuan, di mana porsi pembagian hak tidaklah semata-mata ditentukan oleh realitas biologis sebagai perempuan atau laki-laki melainkan berhubungan erat dengan faktor realitas jender yang ditentukan oleh budaya di mana orang itu berdiam. Tetapi, kata al-Nisa dalam surah al-Bagarah/2: 222 menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah istri-istri. Selain itu kita menjumpai kata al-Mar-ah. Antara kata al-Nisa dan al-Mar-ah lebih cenderung kepada maksud tugas reproduksi kaum perempuan, sedangkan satu lagi kata yaitu Untsa yang mana kata ini lebih menekankan pada aspek biologis atau seks (kelamin).
Berkenaan dengan perannya sebagai seorang ibu, seorang bidan semakin terhormat di hadapan Allah karena ada dua alasan: Pertama, menjalankan tugasnya sebagai pihak yang antara lain membantu seorang perempuan yang akan melahirkan seorang manusia di dunia ini. Kedua, menjadi ibu dari anak-anaknya yang lahir dari rahim (kasih sayang)-nya. Dengan itu, maka pantas jika Nabi Muhammad memberi jawaban yang meyakinkan sang penanya ketika dia berkata: “Kepada siapa aku berbuat baik ya Rasulullah?”, Rasulullah menjawab: Ibumu! Kata ini diulangi oleh beliau tiga kali, baru setelah itu beliau menambahkan: Bapakmu!

*Raa